Situs Interpol Indonesia, yang beralamat di Interpol.go.id, diyakini telah jadi korban aksi iseng dedemit maya. Sang pelaku meninggalkan jejak kalimat singkat gaya 'alay'.
Interpol merupakan lembaga intelijen yang memungkinkan kerjasama intelijen antara penegak hukum di berbagai negara. Di Indonesia, kehadiran Interpol juga ada di dunia maya lewat situs Interpol.go.id.
Informasi yang diterima detikINET, Selasa (12/7/2010), menyebutkan adanya aksi iseng dedemit maya pada situs tersebut. Namun, saat dikunjungi pada pukul 15:40 WIB, akses ke situs tersebut tampaknya terganggu.
Penelusuran di Zone-H, lembaga yang merekam aksi perubahan 'wajah' situs di internet, menyebutkan memang telah terjadi keisengan di situs Interpol.go.id. Sang pelaku menggunakan nama cr4wl3r (dibaca:crawler) dan tercatat menyerbu Interpol.go.id pada 12 Juli 2010.
Menurut Zone-H, pesan yang sempat ditinggalkan Crawler berbunyi: cr4wl3r w4s h3r3 dud3 :p~. Artinya kurang lebih adalah 'crawler pernah main di sini bung!', bagai sebuah ledekan santai dari sang pelaku.
Gaya penulisan pesan itu mirip dengan yang biasa digunakan kelompok 'alay' dalam menulis pesan di forum online maupun via pesan singkat. Di luar negeri gaya penulisan ini dikenal juga sebagai 'l33t speak' dan memang dipopulerkan oleh kalangan dedemit maya.
Hingga pukul 15:50 WIB, situs Interpol.go.id belum juga bisa diakses. Bisa jadi situs itu sedang dalam upaya perbaikan sehingga perlu dimatikan sementara.
sumber : http://www.detikinet.com/read/2010/07/13/160030/1398423/323/situs-interpol-indonesia-kena-sambet-dedemit-maya/
Leia Mais…
Showing posts with label hacker. Show all posts
Showing posts with label hacker. Show all posts
Situs Interpol Indonesia Kena Sambet Dedemit Maya
Label:
Cyber Crime,
Etika Profesi,
hacker,
security
Hacker Jual Jasa Ubah Nilai Siswa
Pengguna internet di China bertumbuh dengan pesat. Kepandaian penduduk China dalam memanfaatkan internet pun semakin lihai. Tragisnya, mereka menerapkannya dalam hal negatif atau melanggar hukum.
Berdasarkan rilis Xinhua, Rabu (14/7/2010), hacker di Negeri Tirai Bambu tersebut mengklaim mampu mengubah nilai siswa. Caranya, mereka masuk ke sistem komputer milik universitas dan lembaga sertifikasi sebelum mengubah nilai siswa.
Sebuah mesin pencari online di China menampilkan puluhan hit tentang jasa hacker ini. Para hacker mengatakan mereka dapat mengubah nilai siswa dengan meminta imbalan. Harga yang disodorkan mencapai lebih dari 10 ribu yuan. Kisaran harga layanan ilegal ini tergantung pada jurusan dan universitas yang dituju.
Dalam perbincangan melalui telepon yang tertera dalam satu situs, seseorang yang menolak menyebut identitasnya mengaku sudah membantu beberapa mahasiswa. Slogan pada situs tersebut adalah "Jika Anda buruk dalam ujian, datangi tim hacker kami."
Ketika ditanya apakah nilai untuk subjek yang gagal di Universitas Bisnis Internasional dan Ekonomi bisa diubah, dia mengatakan hal itu tidak menjadi masalah. Para hacker juga sangat berhati-hati dan meminta nomor siswa sebelum menawarkan harga.
Menurut salah satu hacker, operasi tersebut membutuhkan waktu antara satu hingga lima hari kerja dan harga untuk satu perubahan subjek tunggal sekira 1.600 yuan. Pria itu mengaku timnya menjaga setiap detail informasi dan akan menandatangani perjanjian kerahasiaan dengan pelanggan, setelah berhasil membobol sistem dan mengubah nilai.
"Tetaplah menjaga rahasia ini selama kesepakatan berlangsung. Jika Anda membeberkan ke orang lain, nilai Anda bisa menjadi masalah," tandas sang hacker.
sumber : http://techno.okezone.com/read/2010/07/14/55/352884/hacker-jual-jasa-ubah-nilai-siswa
Leia Mais…
Label:
hacker
Pakistan Ringkus Kelompok Hacker Timur Tengah
Pihak otoritas Pakistan mengumumkan telah berhasil menangkap sedikitnya 5 orang yang diduga terlibat dalam kelompok hacker internasional.
Menurut mereka, jaringan kelompok ini sudah beraksi sejak lama, dan mereka sudah merusak ribuan situs nasional maupun internasional. Selain merusak laman situs, mereka juga teridentifikasi sering melakukan penipuan secara online.
"Lima orang yang kami tangkap berasal dari salah satu kelompok yang teridentifikasi bernama Pakbugs. Kami menangkapnya saat melakukan operasi bersama dengan negara-negara lain," terang pejabat Federal Investigation Agency (FIA) Mian Idrees, seperti yang dilansir AFP, Senin (12/7/2010).
Selain menangkap lima anggota kelompok hacker internasional tersebut, pihak yang berwenang juga melakukan penyitaan terhadap berbagai macam peralatan yang digunakan oleh penjahat cyber tersebut dalam menjalankan aksinya.
"Kelompok ini terlibat dalam pembajakan atau perusakan ribuan web milik pemerintah, non-pemerintah dan organisasi internasional. Mereka juga terlibat dalam penipuan kartu kartu kredit," tambah Idrees.
Dari hasil investigasi diketahui, kalau kelompok hacker Pakbugs berbasis di Arab Saudi dan didirikan oleh awad Ehsan alias Humza. Namun demikian, pihak berwajib memastikan tidak ada hubungannya antara kelompok hacker ini dengan terorisme cyber.
sumber : http://techno.okezone.com/read/2010/07/12/55/352095/pakistan-ringkus-kelompok-hacker-timur-tengah
Leia Mais…
Label:
hacker
ROBERT TAPPAN MORRIS
Robert Tappan Morris
The worm :
Morris created the worm while he was a graduate student at Cornell University. The original intent, according to him, was to gauge the size of the Internet.
He released the worm from the Massachusetts Institute of Technology (MIT) to conceal the fact that it actually originated from Cornell. Unknown to Morris, the worm had a design flaw. The worm was programmed to check each computer it found to determine if the infection was already present.
However, Morris believed that some administrators might try to defeat his worm by instructing the computer to report a false positive. To compensate for this possibility, Morris directed the worm to copy itself anyway, fourteen percent of the time, no matter the response to the infection-status interrogation.
This level of replication proved excessive and the worm spread rapidly, infecting several thousand computers. It was estimated that the cost of repair for the damage caused by the worm at each system ranged from $200 to more than $53,000.
The worm exploited several vulnerabilities to gain entry to targeted systems, including:
a hole in the debug mode of the Unix sendmail program,
a buffer overrun hole in the fingerd network service,
the transitive trust enabled by people setting up rexec/rsh network logins without password requirements...
Biography :
1987 - Received his A.B. from Harvard.
1988 - Released the Morris worm (when he was a graduate student at Cornell).
1989 - Indicted under the Computer Fraud and Abuse Act of 1986 on July 26, 1989 - the first person to be indicted under this Act.
1990 - Convicted and sentenced to three years of probation, 400 hours of community service, a fine of $10,050 and the cost of his supervision.
1995 - Founded Viaweb, a start-up company that made software for building online stores - with Paul Graham.
1998 - Viaweb sold to Yahoo, who renamed it software Yahoo! Store.
1999 - Received Ph.D. in Applied Sciences from Harvard.
1999 - Appointed as a professor at MIT.
2005 - Founded Y Combinator, a venture capital firm - with Paul Graham.
2006 - Awarded tenure.
2006 - Technical advisor for Meraki Networks.
His principal research interest is computer network architectures which includes work on distributed hash tables such as Chord and wireless mesh networks such as Roofnet.
Morris is a longtime friend of Paul Graham (Graham dedicated his book ANSI Common Lisp to him) and Graham named the programming language that generates the online stores' web pages RTML in his honor.
source : http://hiddencomputer.blogspot.com/2008/04/robert-tappan-morris.html Leia Mais…
Label:
hacker
Adrian Lamo
Adrian Lamo (born 1981) is an infamous former Black hat hacker and journalist, principally known for breaking into a series of high-security computer networks, and his subsequent arrest. Best known among these were his intrusions into The New York Times and Microsoft. He is also known for attempting to identify security flaws in computer networks of Fortune 500 companies and then notifying them of any found; while still illegal in many places without permission, this can be seen as a form of unsolicited penetration testing.
Personal :
Lamo was born in Boston, Massachusetts to Mario Lamo and Mary Lamo-Atwood. He spent his early childhood in Arlington, VA, until moving to Bogot?, Colombia around the age of 10. When his family moved back to the United States two years later, they settled in San Francisco, where Adrian lived until he tested out of High School a year early.
Dubbed the "homeless hacker" for his transient lifestyle, Lamo spent most of his travels couch-surfing, squatting in abandoned buildings and travelling to Internet cafes, libraries and universities to investigate networks, and sometimes exploit security holes. Despite performing authorized and unauthorized vulnerability assessment for several large, high-profile entities, Lamo refused to accept payment for his services. In the past, his lifestyle allowed him to travel up and down the coasts of the United States, often by bus, carrying all necessary possessions in a backpack.
Professional :
Since Lamo's sentencing, he has entered the early stages of a career as an award-winning journalist, studying at American River College, with writing, photography, and editorial work / collaboration appearing in Network World, Mobile Magazine, 2600 Magazine, The American River Current, XY Magazine, and others.
Lamo has interviewed personalities ranging from John Ashcroft, to Oliver Stone to alleged members of the Earth Liberation Front. Lamo also has a history of public speaking - he was a keynote speaker at a government security conference in 2005 alongside Bruce Schneier, and a panelist at the Information Security In the Age of Terrorism conference.
Lamo has shown signs of increased cooperation with media since his release from federal custody, including a podcast interview with Patrick Gray in Australia, and an April 2007 segment on 88.1 WMBR out of Cambridge.
Activities and techniques :
Adrian Lamo is perhaps best known for breaking into The New York Times internal computer network in February 2002, adding his name to confidential databases of expert sources, and using the paper's LexisNexis account to conduct research on high-profile subjects, although his first published activities involved operating AOL watchdog site Inside-AOL.com. The Times filed a complaint and a warrant for Lamo's arrest was issued in August 2003 following a 15 month investigation by federal prosecutors in New York.
At 10:15 AM on September 9, after spending a few days in hiding, he surrendered to the US Marshals in Sacramento, California. He re-surrendered to the FBI in New York City on September 11, and pleaded guilty to one count of computer crimes against Microsoft, Lexis-Nexis and The New York Times on January 8, 2004.
Later in 2004, Lamo was sentenced to six months' detention at his parents' home plus two years probation, and was ordered to pay roughly $65,000 in restitution. He was convicted of compromising security at The New York Times and Microsoft, and is alleged to have admitted to exploiting security weaknesses at Excite@Home, Yahoo!, Microsoft, MCI WorldCom, Ameritech, Cingular and has allegedly violated network security at AOL Time Warner, Bank of America, Citigroup, McDonald's and Sun Microsystems.
Companies sometimes use proxies to allow their employees access to the internet, without giving the internet access to their internal network. However, when these proxies are improperly configured, they can allow access to the company's internal network. Lamo often exploited this, sometimes using a tool called ProxyHunter.
Critics have repeatedly labelled Lamo as a publicity seeker or common criminal, claims that he has refused to publicly refute. When challenged for a response to allegations that he was glamorizing crime for the sake of publicity, his response was "Anything I could say about my person or my actions would only cheapen what they have to say for themselves." When approached for comment during his criminal case, Lamo would frequently frustrate reporters with non sequiturs such as "Faith manages" and "It was a beautiful day."
At his sentencing, Lamo expressed remorse for harm he had caused through his intrusions, with the court record quoting him as adding "I want to answer for what I have done and do better with my life."
As of January 16, 2007, Lamo's probation was terminated, ending a three-year period during which the U.S. District Court's ruling prevented him from exercising certain freedoms, including the ability to employ any privacy protection software, travel outside certain established boundaries, or socialize with security researchers.
DNA controversy :
On May 9, 2006, while 18 months into a two year probation sentence, Adrian Lamo refused to give the United States government a blood sample they demanded so as to record his DNA in their CODIS system. According to his attorney, Adrian Lamo has a religious objection to giving blood, but is willing to give his DNA in another form. "He went in there with fingernail clippings and hair, and they refused to accept it, because they will only accept blood," said federal public defender Mary French.
On June 15, 2007, lawyers for Lamo filed another motion citing the Book of Genesis as one basis for Lamo's religious opposition to the frivolous spilling of blood: "The Book of Genesis leaves unambiguous this matter. Therein, those who would spill the blood of man are rebuked as follows: 'Whoever sheds the blood of man, by man shall his blood be shed; for in the image of God has God made man.' Genesis 9:6 (New International Version)."
Lamo continued: "Under this admonition, not only would I be blinding myself to the direct instructions of scripture by shedding blood, but I would similarly be casting whomever facilitated this act into sin, multiplying my culpability," setting the basis for defense counsel Mary French to urge US District Court Judge Frank Damrell to exempt Lamo from the sampling entirely, or to order his probation officer to accept some other biological product in lieu of blood, as previously offered by Lamo.
On June 21, 2007, it was reported that Lamo's legal counsel had reached a settlement agreement with the U.S. Department of Justice granting Lamo's original request. According to Kevin Poulsen's blog, "On Wednesday, the Justice Department formally settled the case, filing a joint stipulation along with Lamo's federal public defender dropping the demand for blood, and accepting cheek swabs instead." Reached for comment, Lamo reportedly affirmed to Poulsen his intention to "comply vigorously" with the order.
Can You Hack It?
Can You Hack It?, a documentary covering Lamo's life and times, is slated for release under the care of Trigger Street Productions. Directed by Sam Bozzo, it features Apple Computer co-founder Steve Wozniak, TechTV personality Leo Laporte, and narration by actor Kevin Spacey. The film explores the practical and ethical themes of modern computer hacking, intertwining Lamo's story with those of controversial figures throughout history.
source : http://hiddencomputer.blogspot.com/2008/04/adrian-lamo-born-1981-is-infamous.html Leia Mais…
Personal :
Lamo was born in Boston, Massachusetts to Mario Lamo and Mary Lamo-Atwood. He spent his early childhood in Arlington, VA, until moving to Bogot?, Colombia around the age of 10. When his family moved back to the United States two years later, they settled in San Francisco, where Adrian lived until he tested out of High School a year early.
Dubbed the "homeless hacker" for his transient lifestyle, Lamo spent most of his travels couch-surfing, squatting in abandoned buildings and travelling to Internet cafes, libraries and universities to investigate networks, and sometimes exploit security holes. Despite performing authorized and unauthorized vulnerability assessment for several large, high-profile entities, Lamo refused to accept payment for his services. In the past, his lifestyle allowed him to travel up and down the coasts of the United States, often by bus, carrying all necessary possessions in a backpack.
Professional :
Since Lamo's sentencing, he has entered the early stages of a career as an award-winning journalist, studying at American River College, with writing, photography, and editorial work / collaboration appearing in Network World, Mobile Magazine, 2600 Magazine, The American River Current, XY Magazine, and others.
Lamo has interviewed personalities ranging from John Ashcroft, to Oliver Stone to alleged members of the Earth Liberation Front. Lamo also has a history of public speaking - he was a keynote speaker at a government security conference in 2005 alongside Bruce Schneier, and a panelist at the Information Security In the Age of Terrorism conference.
Lamo has shown signs of increased cooperation with media since his release from federal custody, including a podcast interview with Patrick Gray in Australia, and an April 2007 segment on 88.1 WMBR out of Cambridge.
Activities and techniques :
Adrian Lamo is perhaps best known for breaking into The New York Times internal computer network in February 2002, adding his name to confidential databases of expert sources, and using the paper's LexisNexis account to conduct research on high-profile subjects, although his first published activities involved operating AOL watchdog site Inside-AOL.com. The Times filed a complaint and a warrant for Lamo's arrest was issued in August 2003 following a 15 month investigation by federal prosecutors in New York.
At 10:15 AM on September 9, after spending a few days in hiding, he surrendered to the US Marshals in Sacramento, California. He re-surrendered to the FBI in New York City on September 11, and pleaded guilty to one count of computer crimes against Microsoft, Lexis-Nexis and The New York Times on January 8, 2004.
Later in 2004, Lamo was sentenced to six months' detention at his parents' home plus two years probation, and was ordered to pay roughly $65,000 in restitution. He was convicted of compromising security at The New York Times and Microsoft, and is alleged to have admitted to exploiting security weaknesses at Excite@Home, Yahoo!, Microsoft, MCI WorldCom, Ameritech, Cingular and has allegedly violated network security at AOL Time Warner, Bank of America, Citigroup, McDonald's and Sun Microsystems.
Companies sometimes use proxies to allow their employees access to the internet, without giving the internet access to their internal network. However, when these proxies are improperly configured, they can allow access to the company's internal network. Lamo often exploited this, sometimes using a tool called ProxyHunter.
Critics have repeatedly labelled Lamo as a publicity seeker or common criminal, claims that he has refused to publicly refute. When challenged for a response to allegations that he was glamorizing crime for the sake of publicity, his response was "Anything I could say about my person or my actions would only cheapen what they have to say for themselves." When approached for comment during his criminal case, Lamo would frequently frustrate reporters with non sequiturs such as "Faith manages" and "It was a beautiful day."
At his sentencing, Lamo expressed remorse for harm he had caused through his intrusions, with the court record quoting him as adding "I want to answer for what I have done and do better with my life."
As of January 16, 2007, Lamo's probation was terminated, ending a three-year period during which the U.S. District Court's ruling prevented him from exercising certain freedoms, including the ability to employ any privacy protection software, travel outside certain established boundaries, or socialize with security researchers.
DNA controversy :
On May 9, 2006, while 18 months into a two year probation sentence, Adrian Lamo refused to give the United States government a blood sample they demanded so as to record his DNA in their CODIS system. According to his attorney, Adrian Lamo has a religious objection to giving blood, but is willing to give his DNA in another form. "He went in there with fingernail clippings and hair, and they refused to accept it, because they will only accept blood," said federal public defender Mary French.
On June 15, 2007, lawyers for Lamo filed another motion citing the Book of Genesis as one basis for Lamo's religious opposition to the frivolous spilling of blood: "The Book of Genesis leaves unambiguous this matter. Therein, those who would spill the blood of man are rebuked as follows: 'Whoever sheds the blood of man, by man shall his blood be shed; for in the image of God has God made man.' Genesis 9:6 (New International Version)."
Lamo continued: "Under this admonition, not only would I be blinding myself to the direct instructions of scripture by shedding blood, but I would similarly be casting whomever facilitated this act into sin, multiplying my culpability," setting the basis for defense counsel Mary French to urge US District Court Judge Frank Damrell to exempt Lamo from the sampling entirely, or to order his probation officer to accept some other biological product in lieu of blood, as previously offered by Lamo.
On June 21, 2007, it was reported that Lamo's legal counsel had reached a settlement agreement with the U.S. Department of Justice granting Lamo's original request. According to Kevin Poulsen's blog, "On Wednesday, the Justice Department formally settled the case, filing a joint stipulation along with Lamo's federal public defender dropping the demand for blood, and accepting cheek swabs instead." Reached for comment, Lamo reportedly affirmed to Poulsen his intention to "comply vigorously" with the order.
Can You Hack It?
Can You Hack It?, a documentary covering Lamo's life and times, is slated for release under the care of Trigger Street Productions. Directed by Sam Bozzo, it features Apple Computer co-founder Steve Wozniak, TechTV personality Leo Laporte, and narration by actor Kevin Spacey. The film explores the practical and ethical themes of modern computer hacking, intertwining Lamo's story with those of controversial figures throughout history.
source : http://hiddencomputer.blogspot.com/2008/04/adrian-lamo-born-1981-is-infamous.html Leia Mais…
Label:
hacker
10 Hacker Terkenal di Dunia
Perjalanan untuk menjadi seorang hacker terkenal memang sangat sulit dan membutuhkan waktu lama, bahkan sampai merasakan indahnya dunia penjara dan tidak cukup sekali. Tidak sedikit orang yang beranggapan bahwa hacker adalah suatu tindak kejahatan atau tindakan kriminal, padahal tidak semua hacker itu berbuat kejahatan, beberapa diantara mereka menggunakan keahliannya untuk melihat atau memperbaiki kelemahan perangkat lunak komputer.
Mari mengintip perjalanan 10 hacker ternama !
1. Kevin Mitnick
Pria kelahiran 6 Agustus 1963 ini adalah salah satu hacker komputer yang paling kontroversial di akhir abad ke-20. Pengadilan Amerika Serikat bahkan menjulukinya sebagai buronan kriminal komputer yang paling dicari di Amerika. Kevin diketahui pernah membobol jaringan komputer milik perusahaan telekomunikasi besar seperti Nokia, Fujitsu and Motorola.
Kevin Mitnick ditangkap FBI pada Januari 1995 di apartemennya di kota Raleigh, North Carolina atas tuduhan penyerangan terhadap pemerintahan. Saat ini, ia berprofesi sebagai seorang konsultan keamanan sistem jaringan komputer.
2. Kevin Poulson
Jauh sebelum menjadi senior editor di Wired News, Pria bernama lengkap Kevin Lee Poulsen ini dikenal sebagai seorang hacker jempolan. Pria kelahiran Pasadena Amerika Serikat, 1965 ini pernah membobol jaringan telepon tetap milik stasiun radio Los Angeles KIIS-FM, sehingga ia seringkali memenangkan kuis-kuis radio. Bahkan lewat kuis telepon via radio ia bisa memenangkan sebuah hadiah utama, mobil Porsche.
3. Adrian Lamo
Nama Adrian Lamo sering dijuluki sebagai 'the homeless hacker' pasalnya ia sering melakukan aksi-aksinya di kedai-kedai kopi, perpustakaan atau intenetcafe. Aksinya yang paling mendapatkan perhatian adalah ketika ia membobol jaringan milik perusahaan Media, New York Times dan Microsoft, MCI WorldCom, Ameritech, Cingular. Tak hanya itu, ia juga berhasil menyusupi sistem milik AOL Time Warner, Bank of America, Citigroup, McDonald's and Sun Microsystems. Kini pria tersebut berprofesi sebagai seorang jurnalis.
4. Stephen Wozniak
'Woz' begitu ia biasa disapa. Saat ini mungkin lebih dikenal sebagai seorang pendiri Apple. Tapi saat menjadi mahasiswa, Wozniak pernah menjadi seorang hacker yang cukup mumpuni. Pria berusia 59 tahun itu diketahui pernah membobol jaringan telepon yang memungkinkannya menelepon jarak jauh tanpa membayar sedikit pun dan tanpa batas waktu. Alat yang dibuat semasa menjadi mahasiswa itu dikenal dengan nama 'blue boxes'
5. Loyd Blankenship
Pria berjuluk The Mentor ini pernah menjadi anggota grup hacker kenamaan tahun 1980 Legion Of Doom. Blakenship adalah penulis buku The Conscience of a Hacker (Hacker Manifesto). Buku yang ditulis setelah ia ditangkap dan diumumkan dalam ezine hacker bawah tanah Phrack.
6. Michael Calce
Sejak usia muda Calce memang dikenal sebagai seorang Hacker. Aksinya membobol situs-situs komersial dunia dilakukannya ketika ia berusia 15 tahun. Pria yang menggunakan nama MafiaBoy dalam setiap aksinya itu, ditangkap ketika membobol pada tahun 2000 mengacak-acak eBay, Amazon and Yahoo.
7. Robert Tappan Morris
Nama Morris dikenal sebagai seorang pembuat virus internet pada tahun 1988, atau dikenal sebagai 'Morris Worm' yang diketahui merusak sekira 6.000 komputer. Akibat ulahnya ia dikenai sanksi untuk bekerja sosial selama 4000 jam. Kini ia bekerja sebagai pendidik di Massachusetts Institute of Technology.
8. The Masters Of Deception
The Masters Of Deception (MoD) merupakan kelompok hacker yang berbasis di New York. Kelompok ini sering mengganggu jaringan telepon milik perusahaan telekomunikasi seperti AT&T. Sejumlah anggota kelompok ini ditangkap pada tahun 1992 dan dijebloskan ke penjara.
9. David L. Smith
Smith dikenal sebagai penemu Mellisa worm, yang pertama kali ditemukan pada 26 Maret 1999. Mellisa sering juga dikenal sebagai "Mailissa", "Simpsons", "Kwyjibo", atau "Kwejeebo". Virus ini didistribusikan lewat email. Smith sendiri akhirnya diseret ke penjara karena virusnya telah menyebabkan kerugian sekira USD80 juta
10. Sven Jaschan
Jaschan menorehkan namanya sebagai seorang penjahat dunia maya pada tahun 2004 saat membuat program jahat Netsky dan Sasser worm. Saat ini ia bekerja di sebuah perusahaan keamanan jaringan.
Source : - techno.okezone.com
Pria kelahiran 6 Agustus 1963 ini adalah salah satu hacker komputer yang paling kontroversial di akhir abad ke-20. Pengadilan Amerika Serikat bahkan menjulukinya sebagai buronan kriminal komputer yang paling dicari di Amerika. Kevin diketahui pernah membobol jaringan komputer milik perusahaan telekomunikasi besar seperti Nokia, Fujitsu and Motorola.
Kevin Mitnick ditangkap FBI pada Januari 1995 di apartemennya di kota Raleigh, North Carolina atas tuduhan penyerangan terhadap pemerintahan. Saat ini, ia berprofesi sebagai seorang konsultan keamanan sistem jaringan komputer.
2. Kevin Poulson
Jauh sebelum menjadi senior editor di Wired News, Pria bernama lengkap Kevin Lee Poulsen ini dikenal sebagai seorang hacker jempolan. Pria kelahiran Pasadena Amerika Serikat, 1965 ini pernah membobol jaringan telepon tetap milik stasiun radio Los Angeles KIIS-FM, sehingga ia seringkali memenangkan kuis-kuis radio. Bahkan lewat kuis telepon via radio ia bisa memenangkan sebuah hadiah utama, mobil Porsche.
3. Adrian Lamo
Nama Adrian Lamo sering dijuluki sebagai 'the homeless hacker' pasalnya ia sering melakukan aksi-aksinya di kedai-kedai kopi, perpustakaan atau intenetcafe. Aksinya yang paling mendapatkan perhatian adalah ketika ia membobol jaringan milik perusahaan Media, New York Times dan Microsoft, MCI WorldCom, Ameritech, Cingular. Tak hanya itu, ia juga berhasil menyusupi sistem milik AOL Time Warner, Bank of America, Citigroup, McDonald's and Sun Microsystems. Kini pria tersebut berprofesi sebagai seorang jurnalis.
4. Stephen Wozniak
'Woz' begitu ia biasa disapa. Saat ini mungkin lebih dikenal sebagai seorang pendiri Apple. Tapi saat menjadi mahasiswa, Wozniak pernah menjadi seorang hacker yang cukup mumpuni. Pria berusia 59 tahun itu diketahui pernah membobol jaringan telepon yang memungkinkannya menelepon jarak jauh tanpa membayar sedikit pun dan tanpa batas waktu. Alat yang dibuat semasa menjadi mahasiswa itu dikenal dengan nama 'blue boxes'
5. Loyd Blankenship
Pria berjuluk The Mentor ini pernah menjadi anggota grup hacker kenamaan tahun 1980 Legion Of Doom. Blakenship adalah penulis buku The Conscience of a Hacker (Hacker Manifesto). Buku yang ditulis setelah ia ditangkap dan diumumkan dalam ezine hacker bawah tanah Phrack.
6. Michael Calce
Sejak usia muda Calce memang dikenal sebagai seorang Hacker. Aksinya membobol situs-situs komersial dunia dilakukannya ketika ia berusia 15 tahun. Pria yang menggunakan nama MafiaBoy dalam setiap aksinya itu, ditangkap ketika membobol pada tahun 2000 mengacak-acak eBay, Amazon and Yahoo.
7. Robert Tappan Morris
Nama Morris dikenal sebagai seorang pembuat virus internet pada tahun 1988, atau dikenal sebagai 'Morris Worm' yang diketahui merusak sekira 6.000 komputer. Akibat ulahnya ia dikenai sanksi untuk bekerja sosial selama 4000 jam. Kini ia bekerja sebagai pendidik di Massachusetts Institute of Technology.
8. The Masters Of Deception
The Masters Of Deception (MoD) merupakan kelompok hacker yang berbasis di New York. Kelompok ini sering mengganggu jaringan telepon milik perusahaan telekomunikasi seperti AT&T. Sejumlah anggota kelompok ini ditangkap pada tahun 1992 dan dijebloskan ke penjara.
9. David L. Smith
Smith dikenal sebagai penemu Mellisa worm, yang pertama kali ditemukan pada 26 Maret 1999. Mellisa sering juga dikenal sebagai "Mailissa", "Simpsons", "Kwyjibo", atau "Kwejeebo". Virus ini didistribusikan lewat email. Smith sendiri akhirnya diseret ke penjara karena virusnya telah menyebabkan kerugian sekira USD80 juta
10. Sven Jaschan
Jaschan menorehkan namanya sebagai seorang penjahat dunia maya pada tahun 2004 saat membuat program jahat Netsky dan Sasser worm. Saat ini ia bekerja di sebuah perusahaan keamanan jaringan.
Source : - techno.okezone.com
Label:
hacker
Kevin Lee Poulsen

Kevin Lee Poulsen aka Dark Dante, salah satu dari hacker legendaris dengan nama Kevin (yang lain Kevin Mitnick). Satu dari hacker pertama yang dikenai tuduhan spionase (meski dibatalkan).
Salah satu aksinya yang paling terkenal adalah saat ia mencurangi konses yang diselenggarakan staiun radio KISS-FM, yang menyediakan hadiah mobil porsche bagi penelepon ke-102. Kevin menghack dan memblok sambungan telepon ke stasiun tersebut, sehingga ia bisa melenggang sebagai penelepon ke-102 dan menggondol hadiahnya, sementara para penelepon lain sama sekali tak bisa masuk.
Sejumlah tuduhan lain yang dikenakan padanya antara lain menyadap telepon sejumlah artis, menerobos masuk ke sistem komputer militer, mengintip hasil penyelidikan FBI dsb.
Poulsen sempat menjadi buronan selama beberapa saat, dan ditayangkan dalam Unsolved Misteries. Ada kisah konyol di balik penangkapannya. Konon seorang pegawai minimarket yang mengenali wajahnya menelepon polisi setelah melihatnya berbelanja di sana, dan Kevin Poulsen yang sudah meninggalkan tempat itu kembali lagi untuk...membeli kondom...
Setelah bebas dari penjara, ia menjadi seorang Jurnalis. Saat ini ia adalah editor senior di Wired News.
Tanpa panjang lebar lagi saya akan menjelaskan kisah hidup dia .....
When Kevin Poulsen was 17, he used his primitive TRS-80 "color computer" to hack into the US Department of Defense's Arpanet, the predecessor of the Internet. He wasn't prosecuted. He was later a computer programmer at SRI and Sun Microsystems, and worked as a consultant testing Pentagon computer security.
In 1988, when authorities suspected Poulsen had cracked a database on the federal investigation of Ferdinand Marcos, they came after him, and he disappeared. As a fugitive, Poulsen needled the FBI by hacking federal computers and revealing details of wiretaps on foreign consulates, suspected mobsters, and the American Civil Liberties Union. He also hacked into the details on FBI front companies. At the highest levels of U.S. law enforcement, they started calling him "The Hannibal Lecter of computer crime".
During his 17 months on the run, Poulsen and two friends, Ronald Austin and Justin Peterson, hacked phone lines to radio station KIIS-FM 102, ensuring that they'd be the "lucky" 102nd caller. Between them, they won two new Porsches, $20,000, and two Hawaiian vacations. When Poulsen was featured on Unsolved Mysteries, a reality crime-solving show, the program's 800 number went dead as Poulsen's picture came on the screen.
But Poulsen was captured shortly after the episode aired in 1991, when employees in a supermarket recognized him and tackled him in the aisles. Poulsen later said he regretted shopping at the store, and was considering organizing "a high-tech boycott".
The feds finally had their "Hannibal Lecter", but they weren't sure what to do with him. After all, he'd made himself into the man who knew too much. Poulsen was held without bail for five years, then charged with money laundering and wire fraud, while more serious charges were dropped. He was sentenced retroactively to "time served" -- five years -- and his eventual release came with the stipulation that he not touch a computer for three more years.
He's now allegedly a law-abiding citizen, and regularly touches computers as a columnist for Security Focus, a security clearinghouse website. Poulsen poo-poos the idea, beloved in law enforcement circles, that only tougher laws, longer sentences, and powerful federal agencies can "protect us" from nefarious hackers -- or, as they're often called for dramatic effect, "cyber-terrorists". Poulsen hates that word, by the way. "Press and public alike", he says, "forget that terrorism traditionally involves some sort of terror".
Poulsen's adventures were detailed in a thriller biography, The Watchman: The Twisted Life and Crimes of Serial Hacker Kevin Poulsen, by Jon Littman. Poulsen has said he didn't much care for the book.
sumber : http://pemukul.blogspot.com/2010/03/kevin-lee-poulsen.html
Leia Mais…
Salah satu aksinya yang paling terkenal adalah saat ia mencurangi konses yang diselenggarakan staiun radio KISS-FM, yang menyediakan hadiah mobil porsche bagi penelepon ke-102. Kevin menghack dan memblok sambungan telepon ke stasiun tersebut, sehingga ia bisa melenggang sebagai penelepon ke-102 dan menggondol hadiahnya, sementara para penelepon lain sama sekali tak bisa masuk.
Sejumlah tuduhan lain yang dikenakan padanya antara lain menyadap telepon sejumlah artis, menerobos masuk ke sistem komputer militer, mengintip hasil penyelidikan FBI dsb.
Poulsen sempat menjadi buronan selama beberapa saat, dan ditayangkan dalam Unsolved Misteries. Ada kisah konyol di balik penangkapannya. Konon seorang pegawai minimarket yang mengenali wajahnya menelepon polisi setelah melihatnya berbelanja di sana, dan Kevin Poulsen yang sudah meninggalkan tempat itu kembali lagi untuk...membeli kondom...
Setelah bebas dari penjara, ia menjadi seorang Jurnalis. Saat ini ia adalah editor senior di Wired News.
Tanpa panjang lebar lagi saya akan menjelaskan kisah hidup dia .....
When Kevin Poulsen was 17, he used his primitive TRS-80 "color computer" to hack into the US Department of Defense's Arpanet, the predecessor of the Internet. He wasn't prosecuted. He was later a computer programmer at SRI and Sun Microsystems, and worked as a consultant testing Pentagon computer security.
In 1988, when authorities suspected Poulsen had cracked a database on the federal investigation of Ferdinand Marcos, they came after him, and he disappeared. As a fugitive, Poulsen needled the FBI by hacking federal computers and revealing details of wiretaps on foreign consulates, suspected mobsters, and the American Civil Liberties Union. He also hacked into the details on FBI front companies. At the highest levels of U.S. law enforcement, they started calling him "The Hannibal Lecter of computer crime".
During his 17 months on the run, Poulsen and two friends, Ronald Austin and Justin Peterson, hacked phone lines to radio station KIIS-FM 102, ensuring that they'd be the "lucky" 102nd caller. Between them, they won two new Porsches, $20,000, and two Hawaiian vacations. When Poulsen was featured on Unsolved Mysteries, a reality crime-solving show, the program's 800 number went dead as Poulsen's picture came on the screen.
But Poulsen was captured shortly after the episode aired in 1991, when employees in a supermarket recognized him and tackled him in the aisles. Poulsen later said he regretted shopping at the store, and was considering organizing "a high-tech boycott".
The feds finally had their "Hannibal Lecter", but they weren't sure what to do with him. After all, he'd made himself into the man who knew too much. Poulsen was held without bail for five years, then charged with money laundering and wire fraud, while more serious charges were dropped. He was sentenced retroactively to "time served" -- five years -- and his eventual release came with the stipulation that he not touch a computer for three more years.
He's now allegedly a law-abiding citizen, and regularly touches computers as a columnist for Security Focus, a security clearinghouse website. Poulsen poo-poos the idea, beloved in law enforcement circles, that only tougher laws, longer sentences, and powerful federal agencies can "protect us" from nefarious hackers -- or, as they're often called for dramatic effect, "cyber-terrorists". Poulsen hates that word, by the way. "Press and public alike", he says, "forget that terrorism traditionally involves some sort of terror".
Poulsen's adventures were detailed in a thriller biography, The Watchman: The Twisted Life and Crimes of Serial Hacker Kevin Poulsen, by Jon Littman. Poulsen has said he didn't much care for the book.
sumber : http://pemukul.blogspot.com/2010/03/kevin-lee-poulsen.html
Label:
hacker
ACONG : SANG HACKER TOBAT PEMILIK INDOWEBSTER
"Semakin kita berbagi, semakin kita akan mendapatkan sesuatu. Kenapa musti takut berbagi?"

Ia tak tahu pasti sudah berapa ribu server yang telah ia jebol. Sebagai seorang peretas, Juny Maimun memang gemar sekali masuk ke server orang. Bukan untuk mengeruk keuntungan, namun sekadar untuk mempelajari source code aplikasi, atau desain sebuah database.
Itu adalah Juny Maimun yang dulu. Pria yang kerap disapa Acong itu, beberapa tahun lalu memang aktif di komunitas 'bawah tanah' AntiHackerlink. Di kalangan peretas, ia dikenal dengan nama nick 'Bagan'.
Tapi Acong sudah tobat. Ia tak mau lagi merugikan orang lain. Sebagai penganut agama Budha taat, Acong percaya betul dengan Karma. Kini, ia tengah mengembangkan bisnisnya di bidang teknologi informasi yang tengah berkembang pesat.
"Sekarang saya cuma pingin nebus dosa," kata Acong, saat diwawancara VIVAnews di Gedung Cyber, Jakarta, Rabu 17 Februari 2010. Bahkan, ia justru menyeru rekan-rekan sesama hacker yang salah jalan, untuk insaf kembali ke 'jalan yang benar'.
Pelan-pelan, pria kelahiran Bagan Siapi-api, 29 tahun lalu itu, mengajak teman-teman kracker (hacker kriminil) untuk beralih menjadi pengusaha konten, pengembang aplikasi, atau bergabung dalam proyek-proyek yang ia kerjakan.
"Apa sih yang didapat dari aktivitas hacking?" Pertanyaan itu biasanya ia lontarkan untuk menyadarkan teman sejawat peretasnya. Sebab, Acong yakin, walau kegiatan carding (menjebol kartu kredit orang lain) bisa membuahkan hasil yang sepadan dengan harga sebuah kapal pesiar, namun hasil uang panas itu akan cepat 'menguap' tak tersisa.
Kini, Acong sibuk dengan tiga proyek yang ia jalankan. Yakni, bisnis warung internet (warnet), usaha penyediaan jasa internet (ISP), dan menjalankan situs bagi pakai file, foto, dan musik: Indowebster.
Usaha warnet sudah ditekuni sejak Acong masih kuliah di New College Stamford. Dari pertama Acong hanya punya satu warnet, kini, bekerja sama dengan rekannya, ia mengoperasikan sekitar tujuh buah warnet. Selain bisnis warnet, Acong juga memiliki ISP bernama Maxindo Mitra Solusi.
Sementara Acong mulai terjun ke dunia web saat mendirikan forum khusus bagi para pecinta game, bernama Indogamers. Di forum ini, Acong juga mendorong anggota komunitas untuk tak cuma berdiskusi, tapi juga berani membuat server game.
Kemudian, sekitar 3 tahun lalu, Acong mendirikan sebuah situs bagi pakai file bernama Indofile. Dari kocek pribadinya, Acong menginvestasikan dana sekitar Rp 50 juta untuk membeli server untuk keperluan situs bagi pakai file.
Situs ini bertahan selama setahun. Hingga pada akhirnya, Acong mengubah Indofile menjadi Indowebster. Konsepnya juga mengalami perubahan. "Indowebster merupakan perpaduan dari rapid*share, ImageShack, dan YouTube," kata Acong.
Jadi tak sekadar mengunduh dan mengunggah file, tapi pengguna juga bisa mengunggah foto dan video di Indowebster. Ke depan Acong sedang mempersiapkan sebuah strategi baru untuk memperluas layanan Indowebster, yaitu menyediakan layanan TV internet.
Uniknya, tak seperti pengusaha web lain yang mengejar profit atau keuntungan, dalam mengelola Indowebster, Acong sama sekali tak mau menarik keuntungan dari situs web ini. Sebab, hal ini terkait erat dengan filosofi yang dipegang teguh oleh Acong: Internet adalah tempat berbagi, sehingga tak sepatutnya bila sebuah situs web mengutip keuntungan.
Walaupun tak mengkomersialkan Indowebster, Acong tak pernah takut situs itu bangkrut, karena untuk membiayai operasional Indowebster, Acong mengambilnya dari berbagai keuntungan yang ia dapatkan dari bisnis ISP dan proyek-proyek yang ia kerjakan bersama tim pengembangan mereka.
"Kebaikan yang kita lakukan pasti akan membawa feedback. Semakin kita berbagi, semakin kita akan mendapatkan sesuatu. Kenapa musti takut berbagi?" kata Acong. Buktinya, kata dia, total investasi dari perangkat-perangkat yang dimiliki Indowebster, kini sudah mencapai paling tidak Rp 1,3 miliar.
Menurut Acong, praktek berbagi yang ia terapkan merupakan pengejawantahan dari prinsip Open Source. Ia sangat mendukung penyebaran ilmu atau teknologi secara terbuka dan cuma-cuma, sehingga semua orang bisa menikmatinya.
"Kalau semua orang go open source, tidak ada orang yang kelaparan. Sebab, open source membuka peluang kontribusi kepada semua orang, tidak hanya kepada orang atau kalangan tertentu saja. Dunia akan lebih sejahtera dengan open source," kata suami dari Wiwik Huang itu.
Tip berbagi dan keterbukaannya itu ternyata tidak hanya dipraktekan pada urusan bisnis semata. Acong juga menerapkannya saat berinteraksi dengan para karyawan. Ia memberikan kesempatan yang sangat besar kepada karyawan-karyawannya untuk maju.
Alim Bachtiar, 19 tahun, adalah salah satu buktinya. Empat tahun lalu, pemuda kelahiran Boyolali itu adalah juru parkir, saat pertama kali bekerja di warnet milik Acong. Namun, Alim yang 'cuma' jebolan SMP itu, kini memegang tanggung jawab menangani core routing koneksi wireless ke klien Maxindo.
"Tak selalu membutuhkan titel pendidikan yang tinggi untuk sebuah tanggung jawab yang besar. Semua orang bisa mempelajari teori, tapi pengalaman adalah sesuatu yang paling bernilai," kata Acong.
Saat diwawancara VIVAnews, Rabu 17 Februari 2010, Alim mengatakan bahwa Acong tak pernah membeda-bedakan orang berdasarkan agama, ras, etnis, dan lain-lain. Acong sering membantu menyiarkan siaran langsung sebuah acara pengajian majelis taklim, ke situs Indowebster.
Tak hanya itu, selama ia bekerja, Alim mengaku tak pernah dibentak atau mengalami perlakuan kasar dari Acong. "Saya bangga punya atasan Pak Acong," kata Alim. Tak terbatas urusan kerjaan, Acong bahkan juga kerap menjadi sasaran curhat Alim, saat ia sedang ada masalah keluarga.
Bagi Acong sendiri, menjadi pengusaha di bidang TI seperti saat ini bukan cita-citanya sejak kecil, karena Acong mengaku tak pernah punya cita-cita di waktu kecil. Hanya saja, pekerjaannya saat ini memang sangat cocok dengan kegemaran dasarnya, yaitu menyediakan sesuatu untuk digunakan orang lain.
"Bila sesuatu yang kita sediakan bermanfaat bagi orang lain, rasanya ada kepuasan tersendiri," ujar hacker tobat itu dengan kalem.

Ia tak tahu pasti sudah berapa ribu server yang telah ia jebol. Sebagai seorang peretas, Juny Maimun memang gemar sekali masuk ke server orang. Bukan untuk mengeruk keuntungan, namun sekadar untuk mempelajari source code aplikasi, atau desain sebuah database.
Itu adalah Juny Maimun yang dulu. Pria yang kerap disapa Acong itu, beberapa tahun lalu memang aktif di komunitas 'bawah tanah' AntiHackerlink. Di kalangan peretas, ia dikenal dengan nama nick 'Bagan'.
Tapi Acong sudah tobat. Ia tak mau lagi merugikan orang lain. Sebagai penganut agama Budha taat, Acong percaya betul dengan Karma. Kini, ia tengah mengembangkan bisnisnya di bidang teknologi informasi yang tengah berkembang pesat.
"Sekarang saya cuma pingin nebus dosa," kata Acong, saat diwawancara VIVAnews di Gedung Cyber, Jakarta, Rabu 17 Februari 2010. Bahkan, ia justru menyeru rekan-rekan sesama hacker yang salah jalan, untuk insaf kembali ke 'jalan yang benar'.
Pelan-pelan, pria kelahiran Bagan Siapi-api, 29 tahun lalu itu, mengajak teman-teman kracker (hacker kriminil) untuk beralih menjadi pengusaha konten, pengembang aplikasi, atau bergabung dalam proyek-proyek yang ia kerjakan.
"Apa sih yang didapat dari aktivitas hacking?" Pertanyaan itu biasanya ia lontarkan untuk menyadarkan teman sejawat peretasnya. Sebab, Acong yakin, walau kegiatan carding (menjebol kartu kredit orang lain) bisa membuahkan hasil yang sepadan dengan harga sebuah kapal pesiar, namun hasil uang panas itu akan cepat 'menguap' tak tersisa.
Kini, Acong sibuk dengan tiga proyek yang ia jalankan. Yakni, bisnis warung internet (warnet), usaha penyediaan jasa internet (ISP), dan menjalankan situs bagi pakai file, foto, dan musik: Indowebster.
Usaha warnet sudah ditekuni sejak Acong masih kuliah di New College Stamford. Dari pertama Acong hanya punya satu warnet, kini, bekerja sama dengan rekannya, ia mengoperasikan sekitar tujuh buah warnet. Selain bisnis warnet, Acong juga memiliki ISP bernama Maxindo Mitra Solusi.
Sementara Acong mulai terjun ke dunia web saat mendirikan forum khusus bagi para pecinta game, bernama Indogamers. Di forum ini, Acong juga mendorong anggota komunitas untuk tak cuma berdiskusi, tapi juga berani membuat server game.
Kemudian, sekitar 3 tahun lalu, Acong mendirikan sebuah situs bagi pakai file bernama Indofile. Dari kocek pribadinya, Acong menginvestasikan dana sekitar Rp 50 juta untuk membeli server untuk keperluan situs bagi pakai file.
Situs ini bertahan selama setahun. Hingga pada akhirnya, Acong mengubah Indofile menjadi Indowebster. Konsepnya juga mengalami perubahan. "Indowebster merupakan perpaduan dari rapid*share, ImageShack, dan YouTube," kata Acong.
Jadi tak sekadar mengunduh dan mengunggah file, tapi pengguna juga bisa mengunggah foto dan video di Indowebster. Ke depan Acong sedang mempersiapkan sebuah strategi baru untuk memperluas layanan Indowebster, yaitu menyediakan layanan TV internet.
Uniknya, tak seperti pengusaha web lain yang mengejar profit atau keuntungan, dalam mengelola Indowebster, Acong sama sekali tak mau menarik keuntungan dari situs web ini. Sebab, hal ini terkait erat dengan filosofi yang dipegang teguh oleh Acong: Internet adalah tempat berbagi, sehingga tak sepatutnya bila sebuah situs web mengutip keuntungan.
Walaupun tak mengkomersialkan Indowebster, Acong tak pernah takut situs itu bangkrut, karena untuk membiayai operasional Indowebster, Acong mengambilnya dari berbagai keuntungan yang ia dapatkan dari bisnis ISP dan proyek-proyek yang ia kerjakan bersama tim pengembangan mereka.
"Kebaikan yang kita lakukan pasti akan membawa feedback. Semakin kita berbagi, semakin kita akan mendapatkan sesuatu. Kenapa musti takut berbagi?" kata Acong. Buktinya, kata dia, total investasi dari perangkat-perangkat yang dimiliki Indowebster, kini sudah mencapai paling tidak Rp 1,3 miliar.
Menurut Acong, praktek berbagi yang ia terapkan merupakan pengejawantahan dari prinsip Open Source. Ia sangat mendukung penyebaran ilmu atau teknologi secara terbuka dan cuma-cuma, sehingga semua orang bisa menikmatinya.
"Kalau semua orang go open source, tidak ada orang yang kelaparan. Sebab, open source membuka peluang kontribusi kepada semua orang, tidak hanya kepada orang atau kalangan tertentu saja. Dunia akan lebih sejahtera dengan open source," kata suami dari Wiwik Huang itu.
Tip berbagi dan keterbukaannya itu ternyata tidak hanya dipraktekan pada urusan bisnis semata. Acong juga menerapkannya saat berinteraksi dengan para karyawan. Ia memberikan kesempatan yang sangat besar kepada karyawan-karyawannya untuk maju.
Alim Bachtiar, 19 tahun, adalah salah satu buktinya. Empat tahun lalu, pemuda kelahiran Boyolali itu adalah juru parkir, saat pertama kali bekerja di warnet milik Acong. Namun, Alim yang 'cuma' jebolan SMP itu, kini memegang tanggung jawab menangani core routing koneksi wireless ke klien Maxindo.
"Tak selalu membutuhkan titel pendidikan yang tinggi untuk sebuah tanggung jawab yang besar. Semua orang bisa mempelajari teori, tapi pengalaman adalah sesuatu yang paling bernilai," kata Acong.
Saat diwawancara VIVAnews, Rabu 17 Februari 2010, Alim mengatakan bahwa Acong tak pernah membeda-bedakan orang berdasarkan agama, ras, etnis, dan lain-lain. Acong sering membantu menyiarkan siaran langsung sebuah acara pengajian majelis taklim, ke situs Indowebster.
Tak hanya itu, selama ia bekerja, Alim mengaku tak pernah dibentak atau mengalami perlakuan kasar dari Acong. "Saya bangga punya atasan Pak Acong," kata Alim. Tak terbatas urusan kerjaan, Acong bahkan juga kerap menjadi sasaran curhat Alim, saat ia sedang ada masalah keluarga.
Bagi Acong sendiri, menjadi pengusaha di bidang TI seperti saat ini bukan cita-citanya sejak kecil, karena Acong mengaku tak pernah punya cita-cita di waktu kecil. Hanya saja, pekerjaannya saat ini memang sangat cocok dengan kegemaran dasarnya, yaitu menyediakan sesuatu untuk digunakan orang lain.
"Bila sesuatu yang kita sediakan bermanfaat bagi orang lain, rasanya ada kepuasan tersendiri," ujar hacker tobat itu dengan kalem.
Source : http://teknologi.vivanews.com/news/read/130394-acong__hacker_insaf_yang_suka_berbagi
Label:
hacker
Kevin Mitnick, Sang Legenda Hacker
Sebuah ketukan terdengar dari pintu apartemennya, Kevin Mitnick membuka pintu dan mendapati lusinan agen FBI dan penegak hukum lain sudah bersiap untuk menangkapnya.
Ini adalah akhir perjalanan seorang hacker yang terpaksa buron demi menghindari hukuman penjara. Hacker yang selama masa buronannya itu telah mendapatkan status legendaris, bahkan telah tumbuh menjadi sebuah mitos yang lebih besar dari dirinya sendiri.
Penangkapan yang terjadi pada 1995 itu menandai awal dari kasus penahanan yang paling kontroversial terhadap seorang pelaku kejahatan cyber. Mitnick adalah seorang penyusup pada sistem komputer dan menjelma sebagai America's Most Wanted Hacker.
Kecanduan Komputer
Karena keluarganya tidak cukup berduit untuk memiliki komputer sendiri, Mitnick mempelajari komputer dengan nongkrong di toko radioshack atau di perpustakaan umum.
Pada periode 1990-an, Mitnick mudah sekali keluar masuk sistem komputer. Namun pada akhir 1980-an ia sebenarnya ingin meninggalkan hobinya itu dan mulai mencari pekerjaan yang sah. Sayangnya, sebelum mendapatkannya, pada 1987 ia tertangkap karena menyusup perusahaan Santa Cruz Organization, sebuah perusahaan piranti lunak yang terutama bergerak di bidang sistem operasi Unix.
Ketika itu pengacara Mitncik berhasil menurunkan tuduhan kejahatan menjadi tindakan yang kurang baik, Mitnick pun hanya diganjar 3 tahun masa percobaan.
Tidak sampai setahun Mitnick kembali tersandung kasus hukum. Gara-garanya seorang teman yang komputernya ia gunakan untuk membobol komputer lain melaporkan Mitnick ke pihak berwajib. Computer yang dibobol Mitnick adalah milik Digital Equipment Corporation (DEC).
Setiap kali membobol komputer yang dilakukan Mitnick adalah mengambil code penyusun dari piranti lunak. Kode itu kemudian dia pelajari dengan sungguh-sungguh, terkadang menemukan beberapa kelemahan di dalamnya. Dalam sebuah kesempatan Mitnick hanya mengaku mengambil kode penyusun dari piranti lunak yang ia sukai atau yang menarik baginya.
Dalam kasus DEC Mitnick mendapatkan masa tahanan yang lebih berat. Ketika itu pengacaranya menyebut Mitnick memiliki "kecanduan pada komputer yang tidak bisa dihentikan". Ia diganjar 1 tahun penjara.
Di penjara Mitnick mendapatkan pengalaman yang buruk. Pada saat itu, nama Mitnick atau yang lebih dikenal dengan nama samaran ‘the Condor' sebagai seorang penjahat komputer demikian melegenda. Sehingga sipir di Lompoc, penjara tempat Mitnick ditahan, mengira Mitnick bisa menyusup ke dalam komputer hanya dengan berbekal suara dan telepon.
Walhasil, Mitnick bukan hanya tidak boleh menggunakan telepon, ia juga menghabiskan waktu berbulan bulan dalam ruang isolasi. Tak heran jika kemudian ia dikabarkan mengalami sedikit gangguan jiwa saat menjalani hukuman di Lompoc.
Tahun 1989 Mitnick dilepaskan dari penjara. Ia berusaha mencari pekerjaan yang resmi, namun statusnya sebagai mantan narapidana membuat Mitnick sulit mempertahankan pekerjaan.
Akhirnya ia bekerja sebagai pendulang informasi untuk kantor penyelidik kantor swasta. Tentunya ini menyeret Mitnick kembali kepada dalam dunia maya. Pada awal 1990-an, Mitnickpun dicari lagi oleh FBI. Kali ini takut akan masuk ruang isolasi selama bertahun-tahun, Mitnick memutuskan untuk kabur.
Hacking The Human Side
Keahlian Mitnick sebagai hacker tidak terbatas pada kemampuan teknis belaka. Ia merupakan seorang yang memahami betul bahwa keamanan sistem komputer terdiri dari aspek kebijakan organisasi, sumber daya manusia, proses yang terlibat serta teknologi yang digunakan.
Seandainya ia seorang pahlawan super, kemampuan utama Mitnick adalah orang yang mempraktekan ilmu social enggineering alias rekayasa sosial. Ini adalah sebuah teknik mendapatkan informasi penting, semisal password, dengan memanfaatkan kelemahan manusiawi.
Kemampuan Mitnick paling baik diilustrasikan dalam cerita berikut, cerita yang dikisahkan Mitnick sendiri pada sebuah forum online Slasdot.org
"Pada satu kesempatan, saya ditantang oleh seorang teman untuk mendapatkan nomor (telepon) Sprint Foncard-nya. Ia mengatakan akan membelikan makan malam jika saya bisa mendapatkan nomor itu. Saya tidak akan menolak makan enak, jadi saya berusaha dengan menghubungi Customer Service dan perpura-pura sebagai seorang dari bagian teknologi informasi. Saya tanyakan pada petugas yang menjawab apakah ia mengalami kesulitan pada ssitem yang digunakan. Ia bilang tidak, saya tanyakan sistem yang digunakan untuk mengakses data pelanggan, saya berpura-pura ingin memverifikasi. Ia menyebutkan nama sistemnya."
"Setelah itu saya kembali menelepon Costumer Service dan dihubungkan dengan petugas yang berbeda. Saya bilang bahwa komputer saya rusak dan saya ingin melihat data seorang pelanggan.
Ia mengatakan data itu sudah berjibun pertanyaan. Siapa nama anda? Anda kerja buat siapa? Alamat anda dimana? Yah, seperti itulah. Karena saya kurang riset, saya mengarang nama dan tempat saja. Gagal. Ia bilang akan melaporkan telepon-telepon ini pada keamanan."
"Karena saya mencatat namanya, saya membawa seorang teman dan memberitahukannya tentang situasi yang terjadi. Saya meminta teman itu untuk menyamar sebagai 'penyelidik keamanan' untuk mencatat laporan dari petugas Customer Service dan berbicara dengan petugas tadi. Sebagai 'penyelidik' ia mengatakan menerima laporan adanya orang berusaha mendapatkan informasi pribadinya pelanggan. Setelah tanya jawab soal telepon tadi, 'penyelidik menanyakan apa informasi yang diminta penelepon tadi. Petugas itu bilang nomor Foncard. 'penyelidik' bertanya, memang berapa nomornya? Dan petugas itu memberikan nomornya. Oops. Kasus selesai"
Buron
Sebagai buronan Mitnick sering berpindah-pindah tempat tinggal dan selalu menanggalkan berbagai kebiasaannya. Namun, satu hal yang tidak bisa ditinggalkan adalah hobinya mengoprek komputer dan jaringan Internetnya.
Bahkan beberapa keahliannya konon digunakan untuk mendapatkan identitas baru. Selama buron reputasinya semakin menjadi. Ia menjelma sebagai 'Ninja Cyber' yang konon bisa membobol komputer Pentagon hanya dengan remote televisi, sebuah rumor yang melebihi cerita fiksi apapun.
Mengapa Mitnick, seorang buron dalam kasus pembobolan komputer, bisa menjadi penjahat yang paling dicari? Ini tak lepas dari peran media massa. Secara khusus adalah serangkaian artikel sensasional dari John Markoff yang dimuat di New York Times.
Markoff mengutuk Mitnick bagaikan seorang teroris. Dalam sebuah pernyataan setelah lama dibebaskan, Mitnick menyebut citra dirinya yang ditampilkan Markoff bagaikan seorang teroris yang berusaha mengendalikan nuklir dunia.
"Saya seakan-akan seorang Osama bin Mitnic," ujarnya bercanda.
Markoff menggambarkan Mitnick sebagai seorang yang mematikan, tak bisa dihentikan dan layak menjadi buronan sepuluh besar FBI maupun penegak hukum lainnya. Artikel Mafkoff, yang kadang muncul di halaman depan, menjadikan Mitnick kandidat terkuat proyek percontohan atas kejahatan cyber. Maka masa depan Mitnick dalam penjara boleh dibilang sudah dituliskan saat itu juga.
Selama menjadi buron Mitnick tetap menjalankan aksinya. Ia membobol berbagai komputer perusahaan besar. Termasuk Sun Microsystem. Ia membobol rekening seorang pada layanan penyimpanan online untuk menyimpan backup dari hasil aksinya. Sebenarnya Mitnick tidak bekerja sendirian namun saat tertangkap ia tak pernah mengungkapkan siapa saja rekannya.
Salah satu korban Mitnick adalah T. Shimomura, seorang ahli komputer yang dalam beberapa tulisan di internet diragukan kebersihannya. Ada dugaan bahwa Shimomura juga seorang hacker yang kerap melakukan perbuatan ilegal. Satu hal yang banyak disetujui adalah Shimomura memiliki sikap yang arogan dan nampaknya ingin muncul sebagai pahlawan dalam kisah perburuan Mintick.
Shimomura, Markoff dan FBI bahu membahu untuk menangkap sang buronan. Panduan dari berita sensasionalnya Mafkoff, kemampuannya hacking Shimomura dan kekuatan hukum FBI pada akhirnya melacak kediaman Mitnick.
Seperti biasanya kisah tertangkapnya seoarang buron, Mitnick melakukan keteledoran. Layanan penyimpanan yang ia gunakan rupanya memiliki program otomatis untuk mencek isi file yang disimpan. Pemilik rekening yang digunakan Mitnick mendapatkan peringatan dari sistem mengenai kapasitas berlebih. Ini adalah awal tertangkapnya Mitnick.
Mitnick mengakui bahwa dirinya ceroboh karena tidak menduga bahwa FBI, Shimomura, Markoff, dan penyedia layanan telepon selular melakukan kerja sama yang begitu erat dan terpadu.
"Operator seluler melakukan pencarian dalam database penagihan mereka terhadap dial-up ke layanan Internet Netcom POP. Ini, seperti bisa diduga, membuat mereka bisa mengidentifikasi area panggilan dan nomor MIN (mobile identification number) yang saya gunakan saat itu. Karena saya kerap berganti nomor, mereka mengawasi panggilan data apapun yang terjadi di lokasi tersebut. Lalu, dengan alat Cellscope 2000 Shimomura, melacak sinyal telepon saya hingga ke lokasi yang tepat," Mitnick menuturkan.
Dua minggu sebelum tertangkapnya Mitnick baru pindah ke Raleigh. Lokasi baru membuat kurang waspada dan ia lupa melacak jalur dial-up yang digunakannya. Beberapa jam sebelum tertangkapnya Mitnick, pelacakan dan pengawasan sedang dilakukan terhadap jalur yang ia gunakan.
Saat ia berusaha melacak sejauh mana pengawasan telah dilakukan hingga siapa dibalik pelacakan tersebut, ia mendengar ketukan pintu. Mitnick membuka pintu dan berhadapan dengan lusinan U.S Marshall dan FBI.
Empat Setengah Tahun Digantung
Setelah tertangkap Mitnick ditahan tanpa kemungkinan jaminan. Ia juga tak diajukan untuk pengadilan. Kurang lebih empat tahun ia habiskan tanpa kepastian. Hal ini benar-benar membuat Mitnick frustasi.
Selama dalam penjara FBI ia tak mendapatkan kesempatan mengetahui kasusnya. Bahkan, Mitnick dan pengacaranya tak bisa melihat data kasus tersebut karena terdapat di laptop dan akses laptop bagi Mitnick dianggap membahayakan. Mitnick dituding bisa membuat misil meluncur hanya berbekal laptop atau telepon. Larangan itu tetap berlaku meskipun pengacaranya menggunakan laptop tanpa modem dan kemampuan jaringan apapun.
Mitnick pada akhirnya dituding menyebabkan kerugian hingga ratusan juta dollar. Mitnick menyangkalnya. Karena menurutnya perusahaan yang dirugikan bahkan tidak melaporkan kerugian tersebut dalam laporan tahunan mereka.
Kesepakatan akhir bagi Mitnick adalah pengakuan bersalah. Bersalah dalam kasus pembobolan komputer dan penyadapan jalur telepon. Mitnick menyerah dan mengikuti itu, dengan imbalan 4 tahun tahun lebih waktunya dalam penjara diperhitungkan sebagai masa tahanan. Total Mitnick dihukum adalah 5 tahun dipenjara , 4 tahun dalam tahanan yang terkatung-katung dan 1 tahun lagi sisanya.
Ia dibebaskan pada tahun 2000 dengan syarat tak boleh menyentuh komputer atau telepon. Pada tahun 2002 baru ia boleh menggunakan komputer tapi tidak yang tersambung ke Internet. Baru tahun 2003 ia menggunakan Internet lagi untuk pertama kalinya.
Sejak dibebaskan Mitnic berusaha untuk memperbaiki hidupnya. Ia menuliskan dua buku mengenai hacking, selain itu ia juga mendirikan perusahaan konsultan keamanan sendiri.
"Hacker adalah satu-satunya kejahatan yang keahliannya bisa digunakan lagi untuk sesuatu yang etis. Saya tidak pernah melihat itu dibidang lain, misal perampokan etis," ungkap Mitnick.
source: http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=9337
Leia Mais…
Label:
hacker
Hacker dan Cracker : PERKEMBANGAN CYBERCRIME DI INDONESIA
Kebutuhan dan penggunaan akan teknologi informasi yang diaplikasikan dengan Internet dalam segala bidang seperti e-banking, ecommerce,e-government, e-education dan banyak lagi telah menjadi sesuatu yang lumrah. Bahkan apabila masyarakat terutama yang hidup di kota besar tidak bersentuhan dengan persoalan teknologi informasi dapat dipandang terbelakang atau ”GAPTEK”. Internet telah menciptakan dunia baru yang dinamakan cyberspace yaitu sebuah dunia komunikasi berbasis komputer yang menawarkan realitas yang baru berbentuk virtual (tidak langsung dan tidak nyata). Walaupun dilakukan secara virtual, kita dapat merasa seolah-olah ada di tempat tersebut dan melakukan hal-hal yang dilakukan secara nyata, misalnya bertransaksi, berdiskusi dan banyak lagi, seperti yang dikatakan oleh Gibson yang memunculkan istilah tersebut pertama kali dalam novelnya: “A Consensual hallucination experienced daily billions of legitimate operators, in every nation…A graphic representation of data abstracted from the banks of every computer in the human system. Unthinkable complexity. Lines of light ranged in the non-space of the mind, clusters and constellations of data. Like city lights, receeding”.
Perkembangan Internet yang semakin hari semakin meningkat baik teknologi dan penggunaannya, membawa banyak dampak baik positif maupun negatif. Tentunya untuk yang bersifat positif kita semua harus mensyukurinya karena banyak manfaat dan kemudahan yang didapat dari teknologi ini, misalnya kita dapat melakukan transaksi perbankan kapan saja dengan e-banking, e-commerce juga membuat kita mudah melakukan pembelian maupun penjualan suatu barang tanpa mengenal tempat. Mencari referensi atau informasi mengenai ilmu pengetahuan juga bukan hal yang sulit dengan adanya e-library dan banyak lagi kemudahan yang didapatkan dengan perkembangan Internet. Tentunya, tidak dapat dipungkiri bahwa teknologi Internet membawa dampak negatif yang tidak kalah banyak dengan manfaat yang ada. Internet membuat kejahatan yang semula bersifat konvensional seperti pengancaman, pencurian dan penipuan kini dapat dilakukan dengan menggunakan media komputer secara online dengan risiko tertangkap yang sangat kecil oleh individu maupun kelompok dengan akibat kerugian yang lebih besar baik untuk masyarakat maupun negara disamping menimbulkan kejahatan-kejahatan baru.
Banyaknya dampak negatif yang timbul dan berkembang, membuat suatu paradigma bahwa tidak ada komputer yang aman kecuali dipendam dalam tanah sedalam 100 meter dan tidak memiliki hubungan apapun juga. David Logic berpendapat tentang Internet yang diibaratkan kehidupan jaman cowboy tanpa kepastian hukum di Amerika, yaitu: ”The Internet is a new frontier. Just like the Wild, Wild West, the Internet frontier is wide open to both exploitation and exploration. There are no sheriffs on the Information Superhighway. No one is there to protect you or to lock-up virtual desperados and bandits. This lack of supervision and enforcement leaves users to watch out for themselves and for each other. A loose standard called "netiquette" has developed but it is still very different from the standards found in "real life". Unfortunately, cyberspace remains wide open to faceless, nameless con artists that can carry out all sorts of mischief “
Seperti seorang hacker dapat masuk ke dalam suatu sistem jaringan perbankan untuk mencuri informasi nasabah yang terdapat di dalam server mengenai data base rekening bank tersebut, karena dengan adanya e-banking jaringan tersebut dapat dikatakan terbuka serta dapat diakses oleh siapa saja. Kalaupun pencurian data yang dilakukan sering tidak dapat dibuktikan secara kasat mata karena tidak ada data yang hilang tetapi dapat diketahui telah diakses secara illegal dari sistem yang dijalankan. Tidak kurang menghebohkannya adalah beredarnya gambar-gambar porno hubungan seksual/pornografi, misalnya antara seorang bintang sinetron Sukma Ayu dan Bjah, penyanyi yang sedang naik daun. Gambar-gambar tersebut beredar secara luas di Internet baik melalui e-mail maupun dalam tampilan website yang dapat disaksikan oleh siapa saja secara bebas. Pengungkapan kejahatan ini masih sangat kecil sekali, dikarenakan banyak kendala dan hambatan yang dihadapi dalam upaya pengungkapannya. Saat ini, bagi mereka yang senang akan perjudian dapat juga melakukannya dari rumah atau kantor hanya dengan mengakses situs www.indobetonline.com atau www.tebaknomor.com dan banyak lagi situs sejenis yang menyediakan fasilitas tersebut dan memanfaatkan fasilitas Internet banking untuk pembayarannya. E-commerce tidak sedikit membuka peluang bagi terjadinya tindak pidana penipuan, seperti yang dilakukan oleh sekelompok pemuda di Medan yang memasang iklan di salah satu website terkenal “Yahoo” dengan seolah - olah menjual mobil mewah Ferrary dan Lamborghini dengan harga murah sehingga menarik minat seorang pembeli dari Kuwait. Perbuatan tersebut dapat dilakukan tanpa adanya hubungan terlebih dahulu antara penjual dan pembeli, padahal biasanya untuk kasus penipuan terdapat hubungan antara korban atau tersangka.
Dunia perbankan melalui Internet (ebanking) Indonesia, dikejutkan oleh ulah seseorang bernama Steven Haryanto, seorang hacker dan jurnalis pada majalah Master Web. Lelaki asal Bandung ini dengan sengaja membuat situs asli tapi palsu layanan Internet banking Bank Central Asia, (BCA). Steven membeli domain-domain dengan nama mirip www.klikbca.com (situs asli Internet banking BCA), yaitu domain wwwklik-bca.com, kilkbca.com, clikbca.com, klickca.com. dan klikbac.com. Isi situs-situs plesetan inipun nyaris sama, kecuali tidak adanya security untuk bertransaksi dan adanya formulir akses (login form) palsu. Jika nasabah BCA salah mengetik situs BCA asli maka nasabah tersebut masuk perangkap situs plesetan yang dibuat oleh Steven sehingga identitas pengguna (user id) dan nomor identitas personal (PIN) dapat di ketahuinya. Diperkirakan, 130 nasabah BCA tercuri datanya. Menurut pengakuan Steven pada situs bagi para webmaster di Indonesia, www.webmaster.or.id, tujuan membuat situs plesetan adalah agar publik menjadi lebih berhati – hati dan tidak ceroboh saat melakukan pengetikan alamat situs (typo site), bukan untuk mengeruk keuntungan.
Menurut perusahaan Security Clear Commerce di Texas USA, saat ini Indonesia menduduki peringkat ke 2 setelah Ukraina dalam hal kejahatan Carding dengan memanfaatkan teknologi informasi (Internet) yaitu menggunakan nomor kartu kredit orang lain untuk melakukan pemesanan barang secara online. Komunikasi awalnya dibangun melalui e-mail untuk menanyakan kondisi barang dan melakukan transaksi. Setelah terjadi kesepakatan, pelaku memberikan nomor kartu kreditnya dan penjual mengirimkan barangnya, cara ini relatif aman bagi pelaku karena penjual biasanya membutuhkan 3 –5 hari untuk melakukan kliring atau pencairan dana sehingga pada saat penjual mengetahui bahwa nomor kartu kredit tersebut bukan milik pelaku barang sudah terlanjur terkirim.
Selain carding, masih banyak lagi kejahatan yang memanfaatkan Internet. Tentunya masih hangat dalam pikiran kita saat seorang hacker bernama Dani Hermansyah, pada tanggal 17 April 2004 melakukan deface dengan mengubah nama - nama partai yang ada dengan nama- nama buah dalam website www.kpu.go.id, yang mengakibatkan berkurangnya kepercayaan masyarakat terhadap Pemilu yang sedang berlangsung pada saat itu. Dikhawatirkan, selain nama – nama partai yang diubah bukan tidak mungkin angka-angka jumlah pemilih yang masuk di sana menjadi tidak aman dan dapat diubah, padahal dana yang dikeluarkan untuk sistem teknologi informasi yang digunakan oleh KPU sangat besar sekali. Untung sekali bahwa apa yang dilakukan oleh Dani tersebut tidak dilakukan dengan motif politik, melainkan hanya sekedar menguji suatu sistem keamanan yang biasa dilakukan oleh kalangan underground (istilah bagi dunia Hacker). Terbukti setelah melakukan hal tersebut, Dani memberitahukan apa yang telah dilakukannya kepada hacker lain melalui chat room IRC khusus Hacker sehingga akhirnya tertangkap oleh penyidik dari Polda Metro Jaya yang telah melakukan monitoring di chat room tersebut. Deface disini berarti mengubah atau mengganti tampilan suatu website. Pada umumnya, deface menggunakan teknik Structured Query Language (SQL) Injection. Teknik ini dianggap sebagai teknik tantangan utama bagi seorang hacker untuk menembus jaringan karena setiap jaringan mempunyai sistem keamanan yang berbeda-beda serta menunjukkan sejauh mana kemampuan operator jaringan, sehingga apabila seorang hacker dapat masuk ke dalam jaringan tersebut dapat dikatakan kemampuan hacker lebih tinggi dari operator jaringan yang dimasuki.
Kelemahan admin dari suatu website juga terjadi pada penyerangan terhadap website www.golkar.or.id milik Partai Golkar. Serangan terjadi hingga 1577 kali melalui jalan yang sama tanpa adanya upaya menutup celah tersebut disamping kemampuan Hacker yang lebih tinggi, dalam hal ini teknik yang digunakan oleh Hacker adalah PHP Injection dan mengganti tampilan muka website dengan gambar wanita sexy serta gorilla putih sedang tersenyum.
Teknik lain adalah yang memanfaatkan celah sistem keamanan server alias hole Cross Server Scripting (XXS) yang ada pada suatu situs. XXS adalah kelemahan aplikasi di server yang memungkinkan user atau pengguna menyisipkan baris-baris perintah lainnya. Biasanya perintah yang disisipkan adalah Javascript sebagai jebakan, sehingga pembuat hole bisa mendapatkan informasi data pengunjung lain yang berinteraksi di situs tersebut. Makin terkenal sebuah website yang mereka deface, makin tinggi rasa kebanggaan yang didapat. Teknik ini pulalah yang menjadi andalan saat terjadi cyberwar antara hacker Indonesia dan hacker Malaysia, yakni perang di dunia maya yang identik dengan perusakan website pihak lawan. Menurut Deris Setiawan, terjadinya serangan ataupun penyusupan ke suatu jaringan komputer biasanya disebabkan karena administrator (orang yang mengurus jaringan) seringkali terlambat melakukan patching security (instalasi program perbaikan yang berkaitan dengan keamanan suatu sistem). Hal ini mungkin saja disebabkan karena banyaknya komputer atau server yang harus ditanganinya.
Dengan demikian maka terlihat bahwa kejahatan ini tidak mengenal batas wilayah (borderless) serta waktu kejadian karena korban dan pelaku sering berada di negara yang berbeda. Semua aksi itu dapat dilakukan hanya dari depan komputer yang memiliki akses Internet tanpa takut diketahui oleh orang lain/ saksi mata, sehingga kejahatan ini termasuk dalam Transnational Crime/ kejahatan antar negara yang pengungkapannya sering melibatkan penegak hukum lebih dari satu negara.
Mencermati hal tersebut dapatlah disepakati bahwa kejahatan IT/ Cybercrime memiliki karakter yang berbeda dengan tindak pidana umum baik dari segi pelaku, korban, modus operandi dan tempat kejadian perkara sehingga butuh penanganan dan pengaturan khusus di luar KUHP. Perkembangan teknologi informasi yang demikian pesatnya haruslah di antisipasi dengan hukum yang mengaturnya dimana kepolisian merupakan lembaga aparat penegak hukum yang memegang peranan penting didalam penegakan hukum, sebab tanpa adanya hukum yang mengatur dan lembaga yang menegakkan maka dapat menimbulkan kekacauan didalam perkembangannya. Dampak negatif tersebut menimbulkan suatu kejahatan yang dikenal dengan nama “CYBERCRIME” yang tentunya harus diantisipasi dan ditanggulangi. Dalam hal ini Polri sebagai aparat penegak hukum telah menyiapkan unit khusus untuk menangani kejahatan cyber ini yaitu UNIT V IT/CYBERCRIME Direktorat II Ekonomi Khusus Bareskrim Polri.
Leia Mais…
Perkembangan Internet yang semakin hari semakin meningkat baik teknologi dan penggunaannya, membawa banyak dampak baik positif maupun negatif. Tentunya untuk yang bersifat positif kita semua harus mensyukurinya karena banyak manfaat dan kemudahan yang didapat dari teknologi ini, misalnya kita dapat melakukan transaksi perbankan kapan saja dengan e-banking, e-commerce juga membuat kita mudah melakukan pembelian maupun penjualan suatu barang tanpa mengenal tempat. Mencari referensi atau informasi mengenai ilmu pengetahuan juga bukan hal yang sulit dengan adanya e-library dan banyak lagi kemudahan yang didapatkan dengan perkembangan Internet. Tentunya, tidak dapat dipungkiri bahwa teknologi Internet membawa dampak negatif yang tidak kalah banyak dengan manfaat yang ada. Internet membuat kejahatan yang semula bersifat konvensional seperti pengancaman, pencurian dan penipuan kini dapat dilakukan dengan menggunakan media komputer secara online dengan risiko tertangkap yang sangat kecil oleh individu maupun kelompok dengan akibat kerugian yang lebih besar baik untuk masyarakat maupun negara disamping menimbulkan kejahatan-kejahatan baru.
Banyaknya dampak negatif yang timbul dan berkembang, membuat suatu paradigma bahwa tidak ada komputer yang aman kecuali dipendam dalam tanah sedalam 100 meter dan tidak memiliki hubungan apapun juga. David Logic berpendapat tentang Internet yang diibaratkan kehidupan jaman cowboy tanpa kepastian hukum di Amerika, yaitu: ”The Internet is a new frontier. Just like the Wild, Wild West, the Internet frontier is wide open to both exploitation and exploration. There are no sheriffs on the Information Superhighway. No one is there to protect you or to lock-up virtual desperados and bandits. This lack of supervision and enforcement leaves users to watch out for themselves and for each other. A loose standard called "netiquette" has developed but it is still very different from the standards found in "real life". Unfortunately, cyberspace remains wide open to faceless, nameless con artists that can carry out all sorts of mischief “
Seperti seorang hacker dapat masuk ke dalam suatu sistem jaringan perbankan untuk mencuri informasi nasabah yang terdapat di dalam server mengenai data base rekening bank tersebut, karena dengan adanya e-banking jaringan tersebut dapat dikatakan terbuka serta dapat diakses oleh siapa saja. Kalaupun pencurian data yang dilakukan sering tidak dapat dibuktikan secara kasat mata karena tidak ada data yang hilang tetapi dapat diketahui telah diakses secara illegal dari sistem yang dijalankan. Tidak kurang menghebohkannya adalah beredarnya gambar-gambar porno hubungan seksual/pornografi, misalnya antara seorang bintang sinetron Sukma Ayu dan Bjah, penyanyi yang sedang naik daun. Gambar-gambar tersebut beredar secara luas di Internet baik melalui e-mail maupun dalam tampilan website yang dapat disaksikan oleh siapa saja secara bebas. Pengungkapan kejahatan ini masih sangat kecil sekali, dikarenakan banyak kendala dan hambatan yang dihadapi dalam upaya pengungkapannya. Saat ini, bagi mereka yang senang akan perjudian dapat juga melakukannya dari rumah atau kantor hanya dengan mengakses situs www.indobetonline.com atau www.tebaknomor.com dan banyak lagi situs sejenis yang menyediakan fasilitas tersebut dan memanfaatkan fasilitas Internet banking untuk pembayarannya. E-commerce tidak sedikit membuka peluang bagi terjadinya tindak pidana penipuan, seperti yang dilakukan oleh sekelompok pemuda di Medan yang memasang iklan di salah satu website terkenal “Yahoo” dengan seolah - olah menjual mobil mewah Ferrary dan Lamborghini dengan harga murah sehingga menarik minat seorang pembeli dari Kuwait. Perbuatan tersebut dapat dilakukan tanpa adanya hubungan terlebih dahulu antara penjual dan pembeli, padahal biasanya untuk kasus penipuan terdapat hubungan antara korban atau tersangka.
Dunia perbankan melalui Internet (ebanking) Indonesia, dikejutkan oleh ulah seseorang bernama Steven Haryanto, seorang hacker dan jurnalis pada majalah Master Web. Lelaki asal Bandung ini dengan sengaja membuat situs asli tapi palsu layanan Internet banking Bank Central Asia, (BCA). Steven membeli domain-domain dengan nama mirip www.klikbca.com (situs asli Internet banking BCA), yaitu domain wwwklik-bca.com, kilkbca.com, clikbca.com, klickca.com. dan klikbac.com. Isi situs-situs plesetan inipun nyaris sama, kecuali tidak adanya security untuk bertransaksi dan adanya formulir akses (login form) palsu. Jika nasabah BCA salah mengetik situs BCA asli maka nasabah tersebut masuk perangkap situs plesetan yang dibuat oleh Steven sehingga identitas pengguna (user id) dan nomor identitas personal (PIN) dapat di ketahuinya. Diperkirakan, 130 nasabah BCA tercuri datanya. Menurut pengakuan Steven pada situs bagi para webmaster di Indonesia, www.webmaster.or.id, tujuan membuat situs plesetan adalah agar publik menjadi lebih berhati – hati dan tidak ceroboh saat melakukan pengetikan alamat situs (typo site), bukan untuk mengeruk keuntungan.
Menurut perusahaan Security Clear Commerce di Texas USA, saat ini Indonesia menduduki peringkat ke 2 setelah Ukraina dalam hal kejahatan Carding dengan memanfaatkan teknologi informasi (Internet) yaitu menggunakan nomor kartu kredit orang lain untuk melakukan pemesanan barang secara online. Komunikasi awalnya dibangun melalui e-mail untuk menanyakan kondisi barang dan melakukan transaksi. Setelah terjadi kesepakatan, pelaku memberikan nomor kartu kreditnya dan penjual mengirimkan barangnya, cara ini relatif aman bagi pelaku karena penjual biasanya membutuhkan 3 –5 hari untuk melakukan kliring atau pencairan dana sehingga pada saat penjual mengetahui bahwa nomor kartu kredit tersebut bukan milik pelaku barang sudah terlanjur terkirim.
Selain carding, masih banyak lagi kejahatan yang memanfaatkan Internet. Tentunya masih hangat dalam pikiran kita saat seorang hacker bernama Dani Hermansyah, pada tanggal 17 April 2004 melakukan deface dengan mengubah nama - nama partai yang ada dengan nama- nama buah dalam website www.kpu.go.id, yang mengakibatkan berkurangnya kepercayaan masyarakat terhadap Pemilu yang sedang berlangsung pada saat itu. Dikhawatirkan, selain nama – nama partai yang diubah bukan tidak mungkin angka-angka jumlah pemilih yang masuk di sana menjadi tidak aman dan dapat diubah, padahal dana yang dikeluarkan untuk sistem teknologi informasi yang digunakan oleh KPU sangat besar sekali. Untung sekali bahwa apa yang dilakukan oleh Dani tersebut tidak dilakukan dengan motif politik, melainkan hanya sekedar menguji suatu sistem keamanan yang biasa dilakukan oleh kalangan underground (istilah bagi dunia Hacker). Terbukti setelah melakukan hal tersebut, Dani memberitahukan apa yang telah dilakukannya kepada hacker lain melalui chat room IRC khusus Hacker sehingga akhirnya tertangkap oleh penyidik dari Polda Metro Jaya yang telah melakukan monitoring di chat room tersebut. Deface disini berarti mengubah atau mengganti tampilan suatu website. Pada umumnya, deface menggunakan teknik Structured Query Language (SQL) Injection. Teknik ini dianggap sebagai teknik tantangan utama bagi seorang hacker untuk menembus jaringan karena setiap jaringan mempunyai sistem keamanan yang berbeda-beda serta menunjukkan sejauh mana kemampuan operator jaringan, sehingga apabila seorang hacker dapat masuk ke dalam jaringan tersebut dapat dikatakan kemampuan hacker lebih tinggi dari operator jaringan yang dimasuki.
Kelemahan admin dari suatu website juga terjadi pada penyerangan terhadap website www.golkar.or.id milik Partai Golkar. Serangan terjadi hingga 1577 kali melalui jalan yang sama tanpa adanya upaya menutup celah tersebut disamping kemampuan Hacker yang lebih tinggi, dalam hal ini teknik yang digunakan oleh Hacker adalah PHP Injection dan mengganti tampilan muka website dengan gambar wanita sexy serta gorilla putih sedang tersenyum.
Teknik lain adalah yang memanfaatkan celah sistem keamanan server alias hole Cross Server Scripting (XXS) yang ada pada suatu situs. XXS adalah kelemahan aplikasi di server yang memungkinkan user atau pengguna menyisipkan baris-baris perintah lainnya. Biasanya perintah yang disisipkan adalah Javascript sebagai jebakan, sehingga pembuat hole bisa mendapatkan informasi data pengunjung lain yang berinteraksi di situs tersebut. Makin terkenal sebuah website yang mereka deface, makin tinggi rasa kebanggaan yang didapat. Teknik ini pulalah yang menjadi andalan saat terjadi cyberwar antara hacker Indonesia dan hacker Malaysia, yakni perang di dunia maya yang identik dengan perusakan website pihak lawan. Menurut Deris Setiawan, terjadinya serangan ataupun penyusupan ke suatu jaringan komputer biasanya disebabkan karena administrator (orang yang mengurus jaringan) seringkali terlambat melakukan patching security (instalasi program perbaikan yang berkaitan dengan keamanan suatu sistem). Hal ini mungkin saja disebabkan karena banyaknya komputer atau server yang harus ditanganinya.
Dengan demikian maka terlihat bahwa kejahatan ini tidak mengenal batas wilayah (borderless) serta waktu kejadian karena korban dan pelaku sering berada di negara yang berbeda. Semua aksi itu dapat dilakukan hanya dari depan komputer yang memiliki akses Internet tanpa takut diketahui oleh orang lain/ saksi mata, sehingga kejahatan ini termasuk dalam Transnational Crime/ kejahatan antar negara yang pengungkapannya sering melibatkan penegak hukum lebih dari satu negara.
Mencermati hal tersebut dapatlah disepakati bahwa kejahatan IT/ Cybercrime memiliki karakter yang berbeda dengan tindak pidana umum baik dari segi pelaku, korban, modus operandi dan tempat kejadian perkara sehingga butuh penanganan dan pengaturan khusus di luar KUHP. Perkembangan teknologi informasi yang demikian pesatnya haruslah di antisipasi dengan hukum yang mengaturnya dimana kepolisian merupakan lembaga aparat penegak hukum yang memegang peranan penting didalam penegakan hukum, sebab tanpa adanya hukum yang mengatur dan lembaga yang menegakkan maka dapat menimbulkan kekacauan didalam perkembangannya. Dampak negatif tersebut menimbulkan suatu kejahatan yang dikenal dengan nama “CYBERCRIME” yang tentunya harus diantisipasi dan ditanggulangi. Dalam hal ini Polri sebagai aparat penegak hukum telah menyiapkan unit khusus untuk menangani kejahatan cyber ini yaitu UNIT V IT/CYBERCRIME Direktorat II Ekonomi Khusus Bareskrim Polri.
Label:
hacker
Subscribe to:
Posts (Atom)

